Thursday, December 21, 2017

Nggak perlu jauh-jauh, ke Ranggon Hills Bogor aja!


Halo guys! Sebelumnya saya mau menginfokan, artikel ini saya buat bukan atas dasar mau promosiin suatu tempat secara komersil. Tapi, saya mau sharing aja berhubung saya merasa menjadi insan pariwisata yang punya hak juga untuk mengexplore destinasi wisata di daerah tempat tinggalnya sendiri (hehe) dan saya mau kasih referensi untuk teman-teman yang lagi cari destinasi wisata buat liburan atau sekedar menghabiskan waktu diakhir pekan. Yap, kali ini referensi destinasi wisatanya ada di kota kelahiran saya, di dekat tempat tinggal saya, yaitu Bogor! (too excited xoxo)


Okay, langsung saja ceritanya...
Jadi trip kali ini saya lakukan bersama teman-teman Beasiswa Unggulan batch 10 STP Sahid Jakarta dan 2 rekan kami dari kelas yang berbeda. Trip kali ini memang sudah direncanakan 1 bulan sebelumnya (maklum kami sedang ada di semester tua yang sudah mulai berpencar dengan kerjaannya masing-masing), dan dengan destinasi yang memang sudah kami tentukan yaitu menuju Ranggon Hills. Sebelumnya, saya mau sedikit menginfokan mengenai Ranggon Hills. Ada yang sudah pernah dengar? Belum? Okay, jadi Ranggon Hills ini adalah destinasi wisata yang bisa dibilang masih baru. Letaknya ini ada di wilayah Curug Pangeran, Taman Nasional Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.
Berhubung saya mengenal salah satu orang yang mengurus dan membuat wisata Ranggon Hills ini, saya mau menceritakan sedikitnya informasi yang saya dapat dari beliau, sebut saja namanya Kang W. Nah, Kang W ini terinspirasi dari tempat wisata yang lagi hits di Jogjakarta, dengan bermodalkan kayu-kayu dan bambu yang dibentuk menjadi sebuah tumpuan untuk berfoto di atas pohon dengan view ke arah kaki gunung sekitar, akhirnya Kang W inipun memberanikan diri membuat tempat wisata Ranggon Hills tentunya dengan bantuan keluarga dan rekannya.

Well, untuk fasilitas yang didapat di Ranggon Hills ini adalah beberapa spot foto yang dibuat dari pohon bambu dan kayu-kayu seperti yang akan saya tampilkan pada gambar dibawah ini guys, dan pastinya ini aman ya, selain dilengkapi dengan alat pengaman juga ditemani oleh guide-nya loh. Enjoy aja! J









Menurut saya, tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan destinasi wisata pada saat liburan di Bogor tentunya bersama keluarga maupun kerabat atau pacar bagi yang punya (no offense ya wkwk). Selain Ranggon Hills, wilayah ini pun memiliki Curug Pangeran yang bisa dinikmati sambil berenang dan berfoto bahkan sambil menyantap hidangan yang sudah disiapkan untuk makan bersama. Ataupun untuk teman-teman yang ingin piknik, bisa menggunakan area perkemahan Curug Pangeran ini sambil menikmati dinginnya angin malam di kaki gunung salak dan diselimuti kabut bersama api unggun yang menghangatkan suasana.

Tapi, pada trip kali ini kami kurang beruntung karena siang hari menuju sore Bogor diselimuti awan mendung yang disusul oleh hujan deras. Jadi, kami tidak dapat menyempatkan diri untuk bermain di Curug Pangeran. But, dont worry! Saking seringnya saya dari tahun 2014 kesini bersama organisasi saya ukmsosma di STP Sahid Jakarta yang banyak mengadakan kegiatan di sini (salah satunya coaching clinic pangan lokal) soooooo, berkali-kali jugalah saya bermain di Curug Pangeran ini, nah saya kasih liat wujudnya melalui foto di bawah ini ya.



Jadi, refreshing itu nggak perlu mengeluarkan uang banyak (kalo memang gapunya uang banyak wkwk) dan nggak perlu jauh-jauh dulu ya guys, kita bisa explore daerah-daerah sekeliling kita dulu. Asli deh, nggak kalah indahnya kok. Daaaaan yang terpenting itu tetep instagram-able banget biar hits kaya anak zaman now yang kekinian (haha).




Okay, last but not least. Kalau teman-teman mau nyoba visit destinasi wisata Ranggon Hills ini cukup merogok kocek yang nggak lebih dari 100k perorang. Seperti yang saya keluarkan; tiket masuk perorang itu sekitar 15k beserta dengan kendaraannya (jadi ya, sekitar 10k/orang deh), kemudian tiket Ranggon Hills 10k dan Curug Pangeran 10k. Cukup terjangkau, bukan?






Mari kita nikmati destinasi pariwisata Indonesia dengan mengexplore daerah sekitar dengan tidak merusak, tetapi membantu menjaga dan melestarikannya agar kelak penerus bangsa masih bisa menikmati hal yang sama. See ya next artikel, Travelersss!

Sunday, May 28, 2017

Sustainable Tourism Desa Kasepuhan Cipta Gelar, Sukabumi - Jawa Barat

Halo Guys! Tepat seminggu setelah kegiatan dari UKM Solidaritas Sosial Mahasiswa (SOSMA) STP Sahid Jakarta yang bernama "Sustainable Tourism Desa Kasepuhan Cipta Gelar, Sukabumi - Jawa Barat" ini dilaksanakan. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pendidikan anggota Masa Bhakti Pertama 2016 SOSMA untuk menjadi anggota penuh atau biasa disebut Masa Bhakti Anggota. Pada kegiatan ini kami dibimbing oleh seorang Anggota Kehormatan SOSMA yang biasa dipanggil Mpok Nina. Singkat cerita, Mpok Nina inilah yang membantu kami mengadakan program ini di Desa Kasepuhan Cipta Gelar karena beliau sudah mengadakan berbagai kegiatan di desa tersebut sejak tahun 2003.

Ohya, seperti biasa ya artikel ini saya buat dengan bahasa curhatan seperti di dalam artikel lain milik saya dan ini akan menjadi artikel terpanjang sepertinya. Let's Check this out! :)

Selasa, 16 Mei 2017
Saya dan Mpok Nina berangkat terlebih dahulu dibanding anggota SOSMA yang lain. Bisa dibilang kami ini tim advance kaliya...(hehe). Kami berangkat menggunakan bus MGI jurusan Bogor - Pelabuhan Ratu dari Terminal Baranangsiang, Bogor sekitar pukul 08.00 WIB. Selama diperjalanan tidak begitu macet hanya di beberapa pasar saja yang terbilang ramai.

sesampainya di Terminal Pelabuhan Ratu
Sekitar pukul 12.00 WIB kami sampai di Terminal Pelabuhan Ratu dan kami pun mampir di salah satu warung makan untuk menyantap makan siang. Setelah makan siang, kami bergegas untuk mencari mobil ELF untuk melanjutkan perjalanan. Kami menggunakan ELF jurusan Cicadas selama 4 jam dari Terminal Pelabuhan Ratu kemudian turun di Terminal Cicadas. Ohya sebelumnya kami sudah memesan ojek dari warga yang tinggal disana untuk menuju Desa Cipta Gelar karena kendaraan umum yang bisa diakses hanya memesan ojek atau mobil bak terbuka (jika dengan jumlah orang yang banyak).
Selama diperjalanan menggunakan motor luarrr biasa...extreme. Karena kami menggunakan jalan yang lebih cepat tapi mengitari gunung dan jalan bebatuan licin. Saya sempat mendokumentasikan jalanan tersebut dalam beberapa gambar karena (jujur) saya takut jatuh.

belum terlalu extreme dalam foto ini

blur kan jadinya haha :(
Pegal, sakit dan ingin cepat sampai yang saya rasakan selama perjalanan, sekitar 2 jam dengan medan yang seperti itu menggunakan motor matic. Akhirnya saya meminta istirahat terlebih dahulu untuk meluruskan kaki yang pegal dan Mpok Nina menawarkan saya untuk foto diantara padi-padi yang sedang dijemur dipinggir jalan, seakan pertanda bahwa kami akan segera sampai.

so in love at the first sight

Dan...sampailah kami sekitar menjelang maghrib. Kami pun segera menuju kediaman Kang Yoyo (beliau seperti LO untuk Abah/Kepala Adat Desa Kasepuhan Cipta Gelar). Kemudian saya dan Mpok Nina berbincang dengan Kang Yoyo untuk perizinan kami mengadakan kegiatan disana. Singkat cerita, kami pun bergegas menuju Bumi Ageung/Imah Gede untuk bertemu Abah di kediaman beliau.
Kang Yoyo pun dengan ramahnya menjelaskan cara bersalaman dengan Abah, dan mengantar kami bertemu dengan Abah untuk menjelaskan maksud dan tujuan kami ke Desa Cipta Gelar. (Setelah kami menunggu untuk bertemu Abah yang pada saat itu sedang memiliki banyak tamu dan kami mendapatkan giliran pukul 22.00 WIB)
Abah sangat ramah menerima kedatangan kami dan memberikan kami izin untuk mengadakan kegiatan yang telah kami rencanakan sebelumnya, begitu juga dengan istri beliau yang kerap disapa Mama Alit (yang artinya mama kecil). Abah ini merupakan kepala adat yang ke-10 setelah mendiang ayahanda beliau wafat.

Setelah menyelesaikan segala persyaratan adat, saya dan Mpok Nina pun makan malam di Bumi Ageung sambil berbincang dengan kawan lama Mpok. Dan malam itu juga saya dan Mpok mulai mengatur rumah warga yang akan kami tinggali atau biasa disebut Live In dengan bantuan Kang Yoyo dan Anggi (anak angkat yg suka membantu beliau di rumah). 
Saya, Mpok dan rekan-rekan BPH (Badan Pengurus Harian) SOSMA perempuan tinggal di 1 rumah bersama orang tua angkat selama disana dengan panggilan Aki Japi dan Emak. Dan 2 rumah untuk MBP 2016 (Kediaman Aki Jaer dan Aki Dasim) serta BPH SOSMA laki-laki tinggal di Bumi Ageung. Setelah menyelesaikan urusan mengenai tempat tinggal dan segala persiapan untuk kedatangan MBP 2016 dan BPH yang akan menyusul esok hari, akhirnya kami pun beristirahat di kediaman Ki Japi.

Rabu, 17 Mei 2016
Sekitar pukul 08.00 WIB kami menuju Bumi Ageung untuk sarapan, tetapi belum sampai ke Bumi Ageung kami berpapasan dengan Pak Guru yang bernama Pak Upar, kemudian Mpok Nina mengajak saya untuk berkunjung ke sekolah yang ada di Desa Cipta Gelar.
Setelah berbincang dengan Pak Upar, kami pun diajak masuk ke perpustakaan untuk bertemu Kepala Sekolah SD &SMP di Cipta Gelar. Singkat cerita, Kepala Sekolah memberitahu bahwa seminggu sebelum kedatangan kami, sekolah ini mengalami kebakaran tepatnya dibagian ruangan kantor tempat penyimpanan berkas-berkas penting, lcd, komputer dll. Sedih, semuanya habis terbakar. Bahkan berkas-berkas untuk pendaftaran akreditasi SD pun turut terbakar, belum lagi lcd dan komputer pemberian relawan yang pernah datang ke Desa Cipta Gelar pun raip terbakar. 
Menurut info yang kami dapat dari Pak Upar, kebakaran ini berasal dari kompor di ruang inap guru (mess guru) yang ada disebelah kantor tersebut. Kemudian kami pun meminta izin untuk berkeliling di sekolah sambil bertanya kepada Pak Upar mengenai perizinan mengadakan sedikit kegiatan di sekolah untuk esok harinya bersama anggota SOSMA yang lain.

kami melihat-lihat buku bacaan di Perpustakaan sederhana ini

Saya dan Mpok Nina berbincang dengan Kepala Sekolah
Selesainya kami berkunjung ke sekolah, kami pun bergegas ke Bumi Ageung untuk menyantap sarapan. Dan saya juga berbincang-bincang dengan Nini (Nenek dalam bahasa sunda) yang setiap hari masak di Bumi Ageung. Dengan bahasa sunda yang saya bisa, saya pun bertanya-tanya mengenai Bumi Ageung dan beberapa hal mengenai Desa Cipta Gelar sembari membantu Nini mendinginkan nasi (dalam bahasa sunda biasa disebut ngakeul).

Ohya guys, sebelumnya saya mau kasih tau nih kenapa di foto itu saya dan Mpok menggunakan kain. Jadi, peraturan adat disini bagi para wanita diwajibkan menggunakan kain setiap harinya dan untuk para lelaki wajib menggunakan udeng atau ikat kepala. Dan dari obrolan dengan Mak Uwok (salah satu nini yang ada di dapur Bumi Ageung) di Desa Cipta Gelar ini pun tidak boleh memasak nasi menggunakan kompor jadi harus dengan tungku dan kayu bakar, selain itu disini pun sangat dilarang menjual beras tanpa terkecuali. Kalau Mak Uwok bilang, lebih baik meminta dari pada harus membeli. Dan mayoritas di Desa Cipta Gelar ini adalah petani. 
Beruntungnya kami yang datang disaat musim panen, so....bakal banyak pengalaman nih soal panen-memanen dan juga sejarah di Desa Kasepuhan Cipta Gelar ini.

Setelah sarapan dan berbincang di dapur Bumi Ageung, saya dan Mpok pun diajak berkeliling desa oleh Kang Sanga (kalau di jawa, kang sanga ini seorang abdi dalem kaliya). Dengan baik hatinya, Kang Sanga seperti guide mengantar kami kesana-kemari sambil menjelaskan apa yang kami tanya.
FYI guys, Desa Kasepuhan Cipta Gelar ini mendapatkan pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air yang biasa disebut Turbin disini. Dan kami pun diajak kesana untuk melihat bagaimana kerjanya si Turbin itu. Tak terlewatkan saya mengambil beberapa gambar di sungai dekat turbin itu berada.
ini dia yang disebut turbin, kincir airnya dibawah bangunan ini







Kemudian setelah dari Turbin, kami pun berkeliling ke kebun sampai ke sawah di Desa Cipta Gelar. Mungkin bagi Mpok Nina pengalaman ini sudah kesekian kalinya, tapi bagi saya sendiri ini pertama kalinya saya kesini (meskipun sebelumnya Ayah saya pernah terlebih dahulu ke Desa ini bersama rekan-rekannya). Kalau Mpok bilang, sambil keliling-keliling cari spot untuk foto yang bagus. Jadi, dari beberapa postingan kali ini saya banyak upload foto juga (hehe). Sembari mencari tempat untuk kegiatan nanti, saya pun mendapatkan banyak hal baru dari mulai ciri khas memanen padi disini menggunakan etem (ani-ani), proses menumbuk padi menjadi beras sampai beratus-ratus jenis padi.

Jemuran padi ini disebut lantaian (dalam bahasa sunda)

Dibelakang saya itu adalah lumbung padi, tempat menyimpan padi yang sudah dijemur untuk nantinya akan ditumbuk
Setelah berkeliling kesana-kemari dengan Mpok Nina dan Kang Sanga, sekitar pukul 17.00 WIB rekan-rekan BPH dan MBP pun akhirnya sampai dengan selamat di Bumi Ageung. Lantas mereka langsung beristirahat kemudian bersih-bersih dan melaksanakan sholat Magrib serta dilanjutkan makan malam. Setelah selesai makan malam, saya bersama Ansori pun bertugas ke rumah Ki Jaer dan Ki Dasim untuk menginformasikan mengenai kegiatan MBP yang akan live in bersama keluarga mereka selama 4 hari kedepan. Sedangkan BPH yang lain dan MBP memulai briefing kegiatan kami.
Singkat cerita, MBP pun dipersilahkan menuju ke rumah orang tua angkat mereka masing-masing dan beristirahat.

bersama Kang Yoyo

Briefing kegiatan di kediaman Kang Yoyo


Kamis, 18 Mei 2017
Pagi itu, semua MBP di masing-masing keluarga pun sudah memulai kegiatan live in mereka. Dari mulai bangun pagi, bersih-bersih, sholat kemudian membantu Nini dan Aki menyiapkan bekal untuk makan di sawah, semuanya dilakukan layaknya mereka adalah anak kedua orang tua angkatnya. Ada 4 BPH yang bertanggung jawab untuk berkeliling melihat kegiatan MBP bersama keluarganya (bukan mendampingi ya), dan yang lainnya mengerjakan tugas masing-masing. Saya persingkat dengan beberapa dokumentasi dari anggota MBP 2016.

berangkat ke sawah 

diajak ngopi sama nini



belajar pake etem



lagi numbuk apa kira-kira?


makan bareng keluarga aki & nini


Dalam sesi ini, saya hanya membantu divisi pariwisata SOSMA untuk mengulik informasi tentang Desa Kasepuhan Cipta Gelar. Sebelum kami berkeliling desa, agenda hari ini yaitu Mpok Nina dan anggota SOSMA (khususnya BPH) akan berkunjung ke SD dan SMP Desa Cipta Gelar. Ohya, sebelumnya saya mau sedikit berbagi informasi tentang apa yang telah kami dapat dari Pak Upar dan Kepala Sekolah mengenai SD dan SMP disini. Jadi begini, Jumlah murid di SD Desa Cipta Gelar ini berkisar 125 orang dan untuk SMP hanya sekitar 40 orang saja. Menurut informasi dari Kepala Sekolah, minat bersekolah disini masih rendah. Kebanyakan anak-anak disini lebih memilih untuk membantu orang tuanya pergi ke sawah atau membantu kegiatan lainnya. Selain itu, tenaga pengajar disini pun bisa dibilang masih terbatas. Menurut informasi yang kami dapat, guru SD disini merangkap sebagai guru SMP juga. Salut!

Nah, kebetulan saat kami datang hari itu murid SD kelas 6 sedang melaksanakan UN jadi semua guru menjadi pengawas, kecuali Pak Upar karena beliau akan mengisi di kelas 7 dan 8 SMP.
Akhirnya kami pun meminta waktu kepada Pak Upar untuk mengisi di kelas murid SMP tersebut untuk berkenalan dan bermain games sederhana sambil belajar. Anak-anak disini sangat pemalu, untuk menjawab sebuah pertanyaan saja senyam-senyum bahkan sampai menutup muka, lucu sekali. Okay, dibawah ini ada beberapa dokumentasi kami saat melakukan kegiatan di sekolah.

mengetes konsentrasi :p




foto bersama setelah mengisi kegiatan di kelas

foto bersama pak Upar
Kami pun melanjutkan agenda untuk berkeliling mengulik Desa Kasepuhan Cipta Gelar ini. Banyak sekali hal-hal baru yang kami dapat disini, bersosialisasi dengan warga sekitar yang rata-rata berbahasa Sunda (beruntung saja saya orang sunda hehe). Ohya, mungkin saya akan mempersingkat ceritanya dengan menampilkan beberapa foto kegiatan saja ya supaya tidak terlalu panjang curhatnya.
P.S : Untuk beragam informasi yang kami dapat mengenai Desa Kasepuhan Cipta Gelar, teman-teman bisa menunggu video dan artikel yang akan dibuat oleh admin akun SOSMA ya InshaAllah secepatnya selesai.

Kegiatan hari itu ditutup dengan Evaluasi kegiatan MBP yang diadakan di Bumi Ageung setelah menyantap makan malam bersama. Dan akhirnya Bang Jajang dan Bang Firman (DPO SOSMA) sampai di Desa Kasepuhan Cipta Gelar, mereka datang untuk mewakili DPP/DPO yang lain. Langsung saja berikut beberapa dokumentasi saat evaluasi kegiatan.

persiapan presentasi/report kegiatan


presenting the result

evaluasi BPH

Jumat, 19 Mei 2017
Kegiatan hari ini sama seperti kemarin yaitu live in bersama keluarga angkat masing-masing, hanya saja hari ini MBP mendapat tugas tambahan yaitu mempersiapkan kegiatan Coaching Clinic, akan tetapi kali ini lebih kepada Demo Cooking membuat produk makanan dari pangan lokal. Demo Cooking ini adalah salah satu kegiatan yang dibuat oleh MBP dalam rangka mengimplementasikan materi yang telah didapat selama beberapa bulan kemarin. Ohya, kenapa sih Demo Cooking? karena sebagai mahasiswa/i perhotelan kami sedikit banyaknya mendapatkan skill & knowledge mengenai masak-memasak, jadi kenapa tidak dibagikan saja ilmunya. Kali ini, Demo Cooking yang dibuat dengan menu yang mereka telah pelajari di kampus yaitu Klappetart dan menu lainnya yaitu Puding Pisang akan diikuti oleh ibu-ibu yang ada di dapur Bumi Ageung dan siswi-siswi SD Cipta Gelar. Maka dari itu, tugas tambahan untuk mempersiapkan Demo Cooking pun mereka laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dari mulai mencari bahan seperti kelapa, pisang, mempersiapkan alat, dll.

Ohya, kebetulan hari ini adalah hari spesial (yang saya lupa namanya) pokoknya tradisi ini berupa semua warga Desa Kasepuhan Cipta Gelar melaksanakan kegiatan memanen di Sawah Utama milik Abah dan dilanjutkan makan besar bersama. Jadi kami semua melaksanakan kegiatan di Sawah Utama tersebut yang lumayan jauh, berada di atas bukit bukit. Ramai, menyenangkan dan penuh rasa kekeluargaan. Dokumentasi pun tak terlewatkan.













Sangat menyenangkan bercengkrama dengan bahasa daerah, berbincang mengenai keunikan Desa Kasepuhan Cipta Gelar dan makan bersama dengan nikmat. Kegiatan di hari itu pun diakhiri dengan evaluasi dan pematangan mekanisme Demo Cooking dan persiapannya. Tetap semangat meskipun seharian naik-turun bukit sambil banyak-banyak bersyukur.

Sabtu, 20 Mei 2017
Pagi itu setelah briefing dan sarapan, dilanjutkan dengan MBP 2016 yang mempersiapkan kegiatan Demo Cooking Klappertart dan Puding Pisangnya. Setelah semuanya siap, anggota MBP 2016 pun memulai kegiatan Demo Cooking. Semua berjalan dengan lancar, meskipun sedikit kaku karena kemampuan bahasa sunda pendemo yang agak kurang dan pemahaman bahasa Indonesia peserta yang kadang masih kurang cepat. Tapi semua memahami apa yang dipresentasikan pada saat Demo Cooking, baik ibu-ibu ataupun siswi-siswi menyukai hasil masakan yang dibuat dari pangan lokal mereka sendiri. Setelah selesai Demo Cooking, Mama Alit pun dipersilahkan untuk mencicipi hasilnya. Beliau senang ada kegiatan seperti ini, menghibur warga terutama ibu-ibu yang selalu membantu di Bumi Ageung. Untuk mempersingkat, berikut saya berikan beberapa gambaran kegiatan tersebut.

Demo Cooking pun dimulai





Mencicipi hasil Demo Cooking bersama
Selesainya Demo Cooking, kami pun melanjutkan kegiatan dengan evaluasi dan beberapa kegiatan lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan bersih-bersih, makan malam dan berkumpul kembali untuk briefing kegiatan selanjutnya di Bumi Ageung.
Malam itu pun ditutup dengan kegiatan sungkeman sekaligus perpisahan dengan keluarga angkat masing-masing MBP 2016. Orang tua angkat yaitu Ki Jaer dan Ki Dasim berserta Nini dipersilahkan untuk memberikan kesan dan pesan setelah beberapa hari kediaman mereka ditinggali oleh anggota MBP 2016 dan begitupun sebaliknya, MBP 2016 pun dipersilahkan untuk menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan setelah beberapa hari menjadi anak angkat orang tuanya.
Haru, sedih dan jadi kangen orang tua yang saya rasakan saat itu, kebetulan bahasa sunda itu bahasa kedua di rumah saya jadi cukup dapat memahami apa yang orang tua angkat sampaikan dengan detail. Serta doa-doa yang mereka ucapkan membuat saya teringat kepada kakek & Nenek saya. Suasana pun pecah ketika Nini mulai menangis dan memeluk anak angkatnya dari MBP 2016. Malam yang dingin pun lebih terasa hangat dari biasanya dengan suasana yang seperti ini.
Penutup kegiatan yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Rasa lelah selama mengikuti kegiatan di Desa Kasepuhan Cipta Gelar pun terbayar dengan semua pembelajaran yang kami dapat.

Surprise for MBP 2016









Akhirnya kegiatan beberapa hari di Desa Kasepuhan Cipta Gelar pun kami lewati dengan beragam macam pembelajaran, pengalaman baru, pengetahuan dan yang paling penting kami mengingat kembali bahwa bersyukur atas nikmat Tuhan adalah kunci dari segalanya.

Last but not least...
Terima kasih saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengadakan kegiatan ini. Terima kasih kepada Abah & Mama Alit berserta semua warga Desa Kasepuhan Cipta Gelar yang telah menerima kami dengan baik, serta kepada Mpok Nina yang telah membimbing kami dalam kegiatan ini, dan kepada Bang Jajang & Bang Firman yang telah menyempatkan hadir, kemudian kepada semua Abang/Kakak DPP dan DPO yang telah membantu berjalannya kegiatan ini hingga terlaksana dengan baik, dan juga pastinya kepada Almamater STP Sahid Jakarta yang telah menaungi UKM SOSMA dan mendukung atas kegiatan kami. Semoga apa yang telah kami laksanakan dapat berguna bagi sesama.

Ooookay, Guys. Sampai juga di paragraf terakhir sesi curhat kali ini. Terima kasih telah membaca cerita pengalaman saya dan rekan-rekan kali ini. Cukup panjang tapi semoga ini dapat (sedikitnya) mengisi kekosongan teman-teman sambil ngopi/ngeteh cantik ya xxx. Dan.... Jangan lupa cek artikel saya yang lain ya! :)